Buah Sikap Amanah dan Kejujuran
Amanah dan kejujuran adalah dua sikap mulia yang mengantarkan pemiliknya kepada kebaikan dan keberuntungan hakiki baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sikap inilah yang membuat para kafir Quraisy Mekkah percaya dan tunduk terhadap keputusan Rasulullah SAW sebelum Islam bersinar di negri Mekkah saat itu. Akan tetapi, di zaman modern ini, dekadensi moral dan akhlak sudah begitu dahsyat dan memprihatinkan. Sehingga sikap mulia tersebut mulai luntur dan bahkan telah sirna dari dari diri-diri sebagian kaum muslimin kecuali mereka yang dirahmati Allah SWT.
Disamping itu pula, kita hidup di satu zaman yang kosong dari qudwah
(panutan), jauh dari zaman nubuwah. Oleh sebab itu, kita perlu membaca
dan memperhatikan perjalanan dan kisah-kisah orang terdahulu yang telah
memenuhi lembaran hidup mereka dengan ketaatan dan kemuliaan.
Mudah-mudahan dengan membaca kisah mereka, kita mengambil faidah dan
manfaat untuk kita realisasikan dalam kehidupan kita.
Pada
edisi kali ini, kita akan mengangkat sebuah kisah tentang seorang
laki-laki dari Bani Israil. Bagaimana kisahnya.? mari kita simak
lanjutan kisah ini dari sosok manusia termulia, teladan kita Rasulullah
SAW. Abu Hurairah RD berkata bahwasanya Rasulullah SAW menceritakan
tentang seorang laki-laki dari Bani Israil yang meminta pinjaman
(berhutang) kepada seseorang sebesar 1000 dinar (mata uang saat itu).
Lalu
orang yang ingin memberi pinjaman itu berkata, “Datangkanlah kepadaku
beberapa orang saksi agar mereka menyaksikan hutangku ini.” Ia menjawab,
“Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku!” Orang itu berkata lagi,
“Datangkan kepadaku seorang yang menjamin hutangmu!” Ia menjawab,
“Cukuplah Allah yang menjamin hutangku!” Lantas orang yang
menghutangipun berkata, “Engkau benar.”
Maka
uang 1000 dinar itu diberikan kepadanya agar dibayar pada waktu yang
telah ditentukan. Setelah sekian lama, orang yang berhutang itupun
berlayar untuk suatu keperluannya. Lalu ia mencari kapal yang bisa
mengantarkannya untuk memayar hutang karena sudah jatuh tempo, akan
tetapi ia tidak mendapatkan kapal tersebut.
Maka
iapun mengambil sebilah kayu yang kemudian dilubanginya lalu
dimasukkanlah uang 1000 dinar ke dalamnya dengan disertai sepucuk surat
buat yang menghutanginya. Lalu ia meratakan kembali kayu tersebut dan
memperbaiki letaknya. Selanjutnya ia pergi ke laut seraya berkata, “Ya
Allah, sungguh Engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam (berhutang)
uang kepada si fulan sebanyak 1000 dinar. Ia pun meminta kepadaku
seorang penjamin, maka aku katakan waktu itu, ‘Cukuplah Allah sebagai
penjamin.’ Dan ia memintaku seorang saksi, maka aku katakan, ‘Cukuplah
Allah sebagai saksi.’
Kemudian
ia pun rela dan menerima perkataanku itu dan dia sudi memberikan
pinjaman (1000 dinar) kepadaku. Sungguh aku telah berusaha keras mencari
kapal untuk mengantarkan uang yang telah aku pinjam karena telah tiba
waktu pengembaliannya, tetapi aku tidak mendaptkan kapal itu. Karena itu
aku titipkan uang itu kepada-Mu.”
Lalu ia melemparnya (kayu yang berisi uang dan sepucuk surat) ke laut lalu ia pulang.
Apa
yang terjadi setelah itu? apakah uang tersebut akan hilang, diambil
orang, tenggelam atau…? mari kita simak lanjutan kisahnya.
Ternyata
orang yang menghutanginya itu keluar untuk menunggu kapal yang datang
ke negrinya sambil melihat-lihat barangkali ada kapal yang membawa
titipan uang untuknya. Tetapi tiba-tiba ia menemukan sepotong kayu.
Lantas ia mengambilnya untuk keperluan kayu bakar istrinya. Namun ketika
ia membelah kayu tersebut ia mendapatkan uang berikut sepucuk surat.
Selang
beberapa waktu, datanglah orang yang berhutang sambil membawa uang 1000
dinar seraya berkata, “Demi Allah, aku terus berusaha untuk mendapatkan
kapal agar bisa sampai kepadamu untuk mengembalikan uangmu, Tetapi aku
sama sekali tidak mendapatkan kapal sebelumnya kecuali yang aku tumpangi
saat ini.”
Orang
yang menghutangi itu berkata, “Bukankah engkau telah mengirimkan uang
itu untukku melalui sesuatu? “ Ia menjawab, “Bukankah aku telah
memberitahukan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan kapal sebelum yang
aku tumpangi sekarang ini”.
Orang
yang menghutanginya berkata, “Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa
yang engkau kirimkan kepadaku melalui kayu. Karena itu bawalah uang 1000
dinarmu kembali.” (HR. Bukhari).
Semoga
kisah ini bisa menjadi bahan renungan dan motivasi bagi kita untuk
senantiasa menghiasi diri kita dengan sikap amanah dan kejujuran
sehingga bisa meraih kebaikan yang berlimpah. Wallahu A`lam
Sumber: 61 Kisah pengantar tudur, diriwayatkan secara shahih dari Rasulullah SAW dan para sahabatnya, karya: Muhammad bin Hamid Abdul Wahab






