Mau Buat Apa?
Tidak ada yang pasti, kecuali ketidakpastian itu sendiri kata seorang filsuf barat yang entah sapa namanya. Tidak perlu di search di google apatahlagi mau memikirkan sapa yang mula asal mengatakan itu. Kalau penasaran, mungkin akan ribuan yang pernah orang yang menulisnya.
Benarkah?
Bertanya benar dan tidak benar itu tetap merajut kembali untuk membenarkan yang diatas, pernyataan ketidakpastian. Tapi apa benar?
Mungkin salah, namun yang jelas kepastian pada dasarnya memang tidak ada yang tahu, namun yakin, percaya dan tetap kembali yakin terus percaya lagi itu akan tetap ada yang memiliki hati yang teguh , tegar dan itiqamah pada sebuah keyakinannya.
Tidak perlu menguraikan bagian-bagian tentang keyakinan, namun percaya pada penghuni bangku-bangku yang duduk kadang-kadang tak beraturan namun lebih banyak diatur untuk duduk rapi itu adalah hal wajib untuk dipercaya. Baik kata-kata, mimpi dan angannya.
Kenapa?
Tidak perlu bertanya kenapa , toh masih banyak urusan yang perlu dikerja, belum lagi ini masih tulisan pertama, belum lagi design templet bangku ceria ini yang ambur adul. Belum lagi masa-masa akhir semester yang berada diujung masa. Namun, jika memaksa dan bertanya kenapa? Haruskah ada jawaban tanya pada rumput yang bergoyang? Atau tanyama' ...
Mau buat apa?
Untuk apa berdiri di depan penghuni bangku-bangku yang menatap penuh tanya? Untuk apa orang yang berbeda ukuran dengan tubuhku ini berdiri, memaksa melakukan ini itu. Membuatku tunduk dan takluk untuk mengikuti semua perintahnya. Apa yang di ucapkan? Pentingkah untuk mereka, atau hanya cuap-cuap luapan emosi dan tuntutan buku paket dari penerbit yang penulisnya berkelibet title-title yang entah dari mana dia dapatkan? Membuat robot - robot modern serba baru menurutku. Membuat mereka paksa patuh, melupakan semua keinginan lain, duduk dan pasrah , suka tak suka, senang tak senang.
Itu dulu, paradigma sekolah-sekolah yang buat anak didiknya pasrah dengan keadaan. Zaman dimana saya dan seumuran saya menikmati masa itu dengan sedikit senyum dan lebih banyak tutup mulut. Tidak ada celotehan saat sang pembawa ilmu show dan berdendang depan kami. kalau berani tunggu mistar kayu mendarat di paha...di lengan dan kepalamu yang mungil.
Ini adalah tulisan pertama, tulisan yang bukan untuk perkenalan, namun untuk memaksa mengenali tulisan-tulisan yang akan ada. Keceriaan dan cerita-cerita yang selalu ada untuk semua penghuni-penghuni bangku-bangku panjang yang muat untuk duduk berlima sekalipun.
ketidakpastian itu melahirkan kreatifitas.
Bersyukur dan banyak beristigfar semoga ketidakpastian itu melahirkan karya-karya emas dari generasi-generasi emas yang bermula dari bangku-bangku yang punya keceriaan disetiap duduk dan tingkahnya.





