Ulat Daun Hijau
Semoga ini bukan hanya pentunaian sebuah kewajiban. Bel akhir jam
trakhirpun telah berdering. Bunyi tiga kali, dan horrayyy bersambut.
Do'a kafaratul majelis telah berdendang sana sini.
Entah kenapa sekolah cepat sepi, tidak seperti biasanya.
Hanya suara angin dan gesekan kertas yang tertiup angin kipas angin.
Tidak terlalu tinggi, tidak hitam dan tak adil juga memanggilnya putih.
Di kenal dia tak pernah diam, berlari sana sini. Mukanya tak pernah
bersih, seringkali ada coretan pulpen, pernah juga kumelihatnya coretan
tipe-x menutupi sebagian kecil wajah mungil sedikit lonjong. Songkok
putih tak pernah lepas dikepala. Tidak pernah terlihat putih bersih.
Dia tiba-tiba ada dibalik pintu. Membawa sesua di gelas plastik bekas
minumuan mineral. Malu-malu menghampiriku. Katanya ini apa? Terlihat
ulat daun, warna hijau terang.
Gelas plastik bekas air mineral itu kini beralih di tanganku. Katanya,
dia mendapatinya di halaman sekolah. "Kasihan", bisikku padanya.
Makannya lahap, daun yang menjadi alasnya dari tadi terkunya. Kusankan
dia menjaganya dengan baik. Menutupnya dengan plastik bening dan
melubanginya. Berharap ulat daun hijau itu suatu saat jadi kupu-kupu
berwana-warni.
Sama sepertinya, masih kelas 5, tapi punya rasa penasaran. Meskipun malu
tapi masih punya niat untuk bertanya, mempertahankan pendapatnya dan
mau beda.
Ibarat ulat bula di masa methamorphosis. Dia bagai ulat bulu. Ulat bulu
yang siap beralih ketahan kepompong dan suatu saat akan memperlihatkan
keindaan warnanya. Tetap semangat menuntut ilmu, semangat ujian
semester.
| Bersongkok Putih |





