Kini saatnya Basah-basah

Langit tidak gelap, namun tiba-tiba suara angin tiba-tiba bertiup super kencang. Daun-daun kering berterbangan bagai layang-layang. Sampah bekas pembukus permen dan makanan ringanpun tak kalah. Ingin bebas dan terbang mengikuti angin yang bertiup kencang. Kulit terasa bergetar saat kilat mulai menyilaukan mata, kemudian diikuti bunyi guntur yang suaranya memekakan telinga. Tak lama kemudian turunlah hujan. Hujan pertama setelah sekian lama halaman sekolah penuh dengan debu.
Segar setelah gerah. Setengah jam sebelum dhuhur menjelang hujan turun dengan lebatnya.  Suara teriakan semangat para penuntut ilmu dibangku-bangkunya dan orasi-orasi penyemangat dari sumber-sumber ilmu kini berganti dengan suara air yang mulai menjatuhi atap-atap kelas, membasahi daun-daun jati  yang telah mulai mengering setengah. Daun-daun jati yang siap meranggas untuk mengurangi penguapan itu kini terselamatkan dengan hujan yang datang tiba-tiba. Datang tanpa permisi  untuk menunggu bel jam terakhir berbunyi.
Setengah jam terlewati dan hujan tak kunjung reda, kini adzan Dhuhur dari masjid tetangga,sayup namun jelas kalau yang Muadzinnya itu jelas telah melewati masa mudanya. Tak lama, kini Muadzin cilik dari kelas yang tadi mulai siap mengungsi karena rembesan dari langit kelasnya yang mulai menggenangi bagian belakang kelas mereka. Suaranya tak kalah dengan adzan magrib dari statiun TV nasional. Boleh diadu tantangku.
Akhirnya shalatpun dilaksanakan. Kini beda, karena bukan mushalah berdinding kayu warna-warni yang jadi tempat shalat berjamaah. Kelas-kelas yang tidak terlalu basahpun mulai dirapikan dan telah berbaris-baris shaf dengan kaki mungil yang siap bertakbir.
Basah bukan halangan, jika ada kemauan pasti bisa dengan ridha Allah. Kelas yang basah tadi penghuninya akhirnya hijrah ke kelas 1 yang sebelum dhuhur telah kembali ke rumahnya.
Daun-daun, rumput-rumput, dan batang-batang kering siap memunculkan pucuk-pucuk hijaunya. Seperti sekolah, seperti bangu-bangku ceria yang telah sebagian basah dengan air hujan. Bukan hanya basah dengan air hujan, namun bangku-bangku itu telah lama basah dengan keringat-keringat  penuntut-penuntut ilmu.  Melihat mereka yang duduk di bangku-bangku panjang itu seakan melihat wajah Ummat Islam yang akan datang.

admin

on Sunday, December 8, 2013 | Tagged |

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment